Bismillah,
Alhamdulillah bisa posting ini, setelah melakukan perjalanan ke luar dari negeri tercinta Indonesia untuk pertama kalinya. Alhamdulillah diberi kesempatan untuk berkunjung ke salah satu negara tetangga, Thailand. Saya ke Thailand bukan untuk liburan atau sekadar jalan-jalan, tujuan berkunjung ke Thailand kali ini adalah mengikuti sebuah workshop yang diselenggarakan oleh sebuah universitas di Thailand ini. Berikut cerita perjalanan keberangkatan saya.Berangkat pagi-pagi sekitar jam 7 dari Bandung menggunakan jasa travel menuju bandara, karena memperkirakan waktu tempuh bandung – bandara adalah 4 jam (pengalaman beberapa teman, dengan segala kemacetan yang mungkin terjadi) jadilah saya juga mempersiapkan kemungkinan waktu tempuhnya adalah 4 jam. Namun, apa daya jam 9 ternyata sudah sampai di bandara, 2 jam lebih cepat dari perkiraan semula.
Ya sudah, di dalam putar-putar bolak-balik seperti orang hilang buat nyari money changer, menukarkan rupiah dengan baht thailand dan dolar amerika(karena khawatir ga bisa menukarkan rupiah di Thailand). Sebenernya yang waktu ini menukarkan uang adalah 2 orang teman saya yang juga ikut workshop ini. Saya masih belum menukarkan uang karena khawatir saya kena fiskal karena tidak mempunyai NPWP dan telah berumur lebih dari 21 tahun sedangkan kedua teman saya ini sudah mempunyai NPWP. Bermodal cerita dari beberapa orang teman, saya mengandalkan NPWP milik orang tua, maklum saya masih awam dengan NPWP, toh kalopun punya saya juga bingung, apa yang mau dipajaki dari saya yang sudah berumur 21 tahun tapi masih banyak mengandalkan kiriman biaya dari orang tua untuk hidup dan belajar di Bandung ini. Alhamdulillah, ternyata dengan fotokopi NPWP + fotokopi KTP saya dan abi + fotokopi kartu keluarga saya, saya dinyatakan bebas fiskal. Alhamdulillah… Setelah dinyatakan bebas fiskal saya segera ke money changer untuk menukarkan rupiah dengan konfigurasi yang sama dengan teman-teman saya.
Setelah menukarkan uang, kami segera masuk ke terminal tunggu. Menunggu keberangkatan pesawat jam 12.30 dari Cengkareng menuju Bangkok. Setelah jam 12.30 pesawat berangkat, pesawat yang digunakan adalah Thai Airways dengan model pesawat entah apa (saya bukan maniak kendaraan). Berikut gambar-gambar yang diambil di atas pesawat:
- the sky…
- sky…
- sky above the earth
Setelah sampai di bandara, mengurus kedatangan di imigrasi (petugas imigrasinya pada pakai masker semua, kemungkinan karena maraknya virus H1N1 kali ya…) Setelah itu kami mencari koper kami yang ternyata berada di ujung jauh dari imigrasi, baru kemudian mencari transportasi yang akan membawa kami ke tempat tinggal kami selama di Thailand ini. Yah karena uang yang kami miliki terbatas, kami memikir berbagai cara yang dapat dilakukan untuk dapat menggunakan uang seminimal mungkin tapi tetap nyaman, akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi publik dari bandara hingga tempat tujuan kami di AITCC. Setelah sedikit negosiasi kami mendapatkan tarif 700 Baht (sekitar 224 ribu rupiah) dan juga biaya tol sebesar 125 Baht (40 ribu rupiah) jadi total kami menghabiskan 825 Baht (264 ribu rupiah) untuk menuju tempat tinggal.
Selama perjalanan sekitar 45 menit yang rata-rata melalui jalan tol itu. Kami kembali berpikir untuk menghemat pengeluaran untuk menginap kami tapi tetap nyaman, sebenarnya kami pada awalnya memesan masing-masing kamar single yang biaya permalamnya 1200 Baht dan kami rencananya akan menginap selama 6 hari jadi total 7200 Baht untuk 6 harinya… Sedangkan uang saku kami hanya 7700 Baht + 100 Dolar US alias buat sisanya ya 500 Baht aja… wah kok tampak kurang ya itu baru buat menginap, belum makan, transportasi, dan lain sebagainya… setelah berunding kami putuskan untuk memesan sebuah kamar double bed dengan biaya permalamnya 1400 Baht saja dikalikan 6 jadi 8400 Baht tapi bukan perorang melainkan untuk bertiga, jadi seorang cukup membayar 2800 Baht selama 6 hari buat menginap, benar-benar jiwa-jiwa backpacker gini supaya masih bisa menyisakan sedikit-sedikit uang saku. Sebenarnya waktu pesan kamar ke resepsionisnya kami tampaknya agak ditertawakan gitu oleh sang resepsionis (dia ngomong sama temennya pake bahasa Thai gitu ke temennya sambil tertawa kecil), ga tau kalo kami benar-benar lagi butuh ngirit pengeluaran hidup selama di Thailand ini.Yah ndak papa lah, sedikit ditertawakan yang penting bisa bertahan hidup lebih baik, daripada bersusah-susah karena terlalu mahal bayar biaya penginapan. Waktu Maghrib dan isya’ di sini cukup jauh daripada di Indonesia, baru masuk maghrib (matahari tenggelam) sekitar 18.45 sedangkan masuk waktu isya’ pada pukul 20.00 dengan zona waktu yang sama dengan Jakarta. Malamnya, teman saya makan mie instant yang dibeli di sekitar daerah penginapan, karena saya masih khawatir akan halalnya maka saya putuskan untuk makan malam hanya dengan roti + wafer yang berapa lapis? ratusan.. lebih… bekal dari Indonesia, semoga besok bisa cari-cari tempat makan yang halal dan enak…
Satu lagi hal yang menarik, operator seluler saya masih dapat digunakan di Thailand, tapi untuk kirim 1 sms saja mahal banget euy… ga tahu operator lain gimana… sekali sms habis 4500 rupiah padahal pulsa pas-pasan di sini kan ga ada yang jualan pulsanya…(sisa pulsa diprioritaskan demi mengkontak ummi saya dan anggota keluarga saya yang lain) ya sudahlah, maaf teman-teman yang sms saya, saya balas via email saja yah, ga kepingin waktu disms ummi ga bisa jawab/nge-reply euy, afwan jiddan… maaf banget…
Koneksi internet di tempat kami menginap cukup kencang, untuk meremote pekerjaan di kampus tercinta ITB serasa masih berada di lokal kampus, tidak seperti kalau meremote pekerjaan dari tempat KP, koneksi internet kosan, maupun koneksi internet flash
mantap lah pokoknya…
Ya sudahlah, sekian saja posting kali ini. Hanya berbagi cerita perjalanan keberangkatan saja. Setelah ini akan istirahat dahulu, guna mengikuti workshop besok dengan baik.
Wallahu a’lam bish showab




mas, gimana langkah langkah ngurus bebas fiskal kalo umur diatas 21? mahasiswa…belum bisa bikin npwp
+ gimana caranya supaya tau, kalo npwp orang tua kita sudah terdaftar atay belom, kok katanya ada yang dipersulit, npwp nya harus didaftarin dulu…
kemarin dalam perjalanan saya, caranya hanya menyertakan fotokopi NPWP orang tua+fotokopi KTP saya dan orang tua+fotokopi kartu keluarga
setelah itu diberikan ke bagian pengurusan bebas fiskal dan alhamdulillah nggak lama langsung di-approve bebas fiskal
npwp sudah terdaftar atau belum kurang tahu juga, karena saya hanya melampirkan yang tadi saja sudah di-approve oleh petugasnya